KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji kehadirat Allah swt.
yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul”deman typoid” Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman,
dosen saat proses pembelajaran mata kuliah yang telah memberikan
ilmunya kepada penulis dan teman-teman.
Penulis menyadari bahwa penulisan
tugas ini masih kurang sempurna, hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun guna perbaikan dan kesempurnaan tugas yang diberikan
oleh ibu.
Semoga penulisan tugas ini dapat
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Bulukumba,
8,desember 2014
Penulis.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Demam typhoid merupakan permasalahan
kesehatan penting dibanyak negaraberkembang. Secara global, diperkirakan 17
juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya. DiIndonesia diperkirakan
insiden demam typhoid adalah 300 – 810 kasus per 100.000 penduduk pertahun,
dengan angka kematian 2%. Demam typhoid merupakan salah satu dari penyakitinfeksi
terpenting. Penyakit ini di seluruh daerah di provinsi ini merupakan penyakit
infeksiterbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh 24 kabupaten. Di Sulawesi
Selatan melaporkandemam typhoid melebihi 2500/100.000 penduduk (Sudono,
2006).Demam tifoid atau typhus abdominalls adalah suatu infeksi akut yang
terjadi pada ususkecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.
Typhi dengan masa tunas 6-14
hari.Demam tifoid yang tersebar di seluruh dunia tidak tergantung pada iklim.
Kebersihan peroranganyang buruk merupakan sumber dari penyakit ini meskipun
lingkungan hidup umumnya adalahbaik. Di Indonesia penderita Demam Tifoid cukup
banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana.
Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama padamusim panas. Demam tifoid
dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering padaanak besar, umur
5- 9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3:
1.12 Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, sejak usia seseorang
mulai dapatmengkonsumsi makanan dari luar, apabila makanan atau minuman yang
dikonsumsi kurangbersih. Biasanya baru dipikirkan suatu demam tifoid bila
terdapat demam terus-menerus lebihdari 1 minggu yang tidak dapat turun dengan
obat demam dan diperkuat dengan kesan anak baring pasif, nampak pucat, sakit
perut, tidak buang air besar atau diare beberapa hari (BahtiarLatif, 2008)
Prognosis demam typoid tergantung
dari umur,keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi
salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan.Angka kematian pada anak-anak
2.6 % dan pada orang dewasa 7.4%
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat
diidentifikan masalah keperawatandemam thypoid mulai dari pengkajian, riwayat
kesehatan, pola fungsional, pemeriksaan fisik danpemeriksaan laboratorium yang
berguna untuk menunjang dalam pemberian asuhankeperawatan. Asuhan keperawatan
ditentukan berdasarkan data focus yang diperoleh darikeluhan-keluhan yang
dirasakan oleh pasien dan keluarga. Dari keluhan yang dapat digunakan untuk
menentukan prioritas masalah keperawatan yang muncul, menentukan
intervensi,implementasi keperawatan dan mengevaluasi asuhan keperawatan yang
diberikan. etiologi
dari demam tifoid ?
C.
Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari demam tifoid ?
2. Apa klinis dari demam tifoid ?
3. Apa patofisiologi dari demam tifoid
?
4. Bagaimana gejala dan tanda demam tifoid?
5. Apa manifestasi klinik dari demam
tyipoid?
6. Bagaimana penanganan atau pencegahan
demam tifoid?
7. Bagaimana cara pembuatan asuhan
keperawatan demam tyipoid?
D.
Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari demam
tifoid.
2. Untuk mengetahui etiologi dari demam
tifoid.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari demam tifoid.
4. Untuk mengetahui gejala dan tanda
demam tifoid.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid.
6. Untuk mengetahui cara penanganan
atau pencegahan demam tifoid.
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan
demam tyipoid
E.
Manfaat
1. Sebagai bahan dalam memenuhi tugas
dari dosen.
2. Sebagai bahan untuk menambah wawasan
pembaca khususnya tentang penyakit tifoid.
3. Bagi masyarakat dapat memberikan
gambaran tanda-tanda dan gejala serta penyebab penyakit demam tifoid di
masyarakat sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi deman typoid
Demam typoid adalah penyakit infeksi akut yang
biasanya terdapat pada saluran cerna dan gejala demam lebih dari satu minggu,
gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.(Ilmu Kesehatan
Anak,jilid 2,2003)
Demam typoid adalah suatu penyakit pada usus yang
menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella
typhosa,salmonella tipe A,B dan Penularan terjadi secara fecal,oral melalui
makanan dan minuman yang terkontaminasi.(Mansjoer Arief,2000)
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat
akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial
yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal
ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
B.
Etiologi
1.
96 % disebabkan oleh salmonella typhi, basil gram
negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai
sekuran-kurangnya 3 macam antigen, yaitu :
a.
Antigen O (somatic terdiri dari zat
kompleklipolisakarida)
b.
Antigen (flagella)
c.
Antigen VI dan protein membrane hialin
2.
Salmonella paratyphi A
3.
Salmonella paratyphi B
4.
Salmonella paratyphi C
5.
Feces dan urin yang terkontaminasi dari
penderita typus (Rahmad Juwono,2002)
C.
Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :oris (mulut),
faring (tekak), esofagus (kerongkongan),ventrikulus (lambung), intestinum minor
(usus halus), intestinum mayor(usus besar), rectum dan anus. Pada kasus typoid,
salmonella typi berkembang biak diusus halus.
Usus Halus adalah bagian dari system pencernaan
makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada seikum, panjangnya lebih
kurang 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan
absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari :
Lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam ),
lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus
longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari),
yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari, panjangnya lebih
kurang 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini
terdapat pancreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lender yang
membukit yang disebut dengan papilla vateri. PAda papilla vateri ini bermuara
saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pancreas (duktus pankreatikus).
Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar.
Kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah
intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang lebih kurang 6
meter. Dua per lima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang lebih kurang 23
meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 meter. Lekukan yeyenum dan ileum yang
berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium. Akar mesenterium memungkinkan
keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesentrika superior, pembuluh
limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritoneum yang membentuk
mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang
tegas. Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang
yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter
ileosseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valuva seikalis atau valuva
baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tdak
masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus, permukaan epitel yang sangat luas
melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorpsi.
Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar
permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta
yang menghasilkan bermacam – macam hormon jaringan dan enzim yang memegang
peranan aktif dalam pencernaan. Di dalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam
sel termasuk banyak leukosit. Disana – disini terdapat beberapa nodula jaringan
limfe yang disebut kelenjar.
D.
Manifestasi Klinis
1.
Gejala Klinis demam typoid pada anak biasanya lebih
ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata – rata 10 –
20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan
yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman selama masa
inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan,
lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak semangat.
2.
Gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a.
Demam
Pada kasus – kasus yang khas, demam berlangsung 3
minggu. Bersifat febris remitten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu
pertama, suhu tubuh berangsur – angsur meningkat lagi pada sore dan malam hari.
Dalam minggu kedua,penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu
ketiga suhu badan berangsur – angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu
ketiga.
b.
Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir
kering dan pecah – pecah. Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung ditemukan
kemerahan , jarang ditemui tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut
kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan.Biasanya
didapatkan konstipasi akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat
terjadi diare.
c.
Gangguan keasadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak
berapa dalam yaitu apatis sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah.
Disamping gejala – gejala yang biasanya ditemukan
tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak
dapat ditemukan bintik – bintik kemerahan karena emboli basil
dalam kapiler kulit.Biasanya dtemukan alam minggu pertama demam
kadang – kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula
ditemukan epistaksis. .(Ilmu Kesehatan Anak,jilid 2,2003
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa
kuman/karier.Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan
kumanke makanan, susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa
dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat
dinegara-negara yang sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan
kotoran (sanitasi) yang andal. (Samsuridjal D dan heru S, 2003) Masa inkubasi
demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasiantara 3-60 hari) bergantung
jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selamamasa inkubasi penderita tetap
dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto,2002)
E.
Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui
berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu:
Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus (muntah), Fly
(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
F.
Pemeriksaan Laboratorium
1.
Menurut buku – buku disebutkan pada demam typoid
terdapat leucopenia dan limfositosis relative, tetapi kenyataan leucopenia
tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typoid, jumlah leukosit
pada sediaan darah tepi berada batas- batas normal, malahan kadang-kadang
terdapat leukositosis. Walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder.
Oleh karena itu, pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosis
demam typoid.
2.
Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT seringkali meningkat tetapi kembali ke
normal setelah sembuhnya demam typoid. KEnaikan SGOT dan SGPT ini tidak
memerlukan pembatasan pengobatan.
3.
Biakan Darah
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi
biakan darah negatif menyingkirkan demam typoid. Hal ini disebabkan karena
hasil biakan darah bergantung pada beberapa factor antara lain Teknik
Pemeriksaan Laboratorium Saat pemeriksaan selama berjalan penyakit
Pada demam typoid biakan darah terhadap S.Typhi
terutama positif pada minggu pertama penyakit dan berkurang pada
minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan biasa positif lagi.
4.
Uji Widal
a.
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara
antigen dan antibody, aglutinin yang spesifik terhadap salmonella terdapat
dalam serum pasien demam typoid pada orang yang pernah ketularan salmonella dan
pada orang yang pernah divaksinasi terhadap demam typoid.
b.
Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah laboratorium.Maksud uji widal adalah
menentukan adanya agglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita demam
typoid.Akibat infeksi oleh S.Typhi, pasien membuat anti bodi (aglutini),yaitu:
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya
aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Mungkin tinggi
titernya, mungkin besar kemungkinan pasien menmderita demam typoid. Pada
infeksi yang aktif, titer uji widal akan meningkat pada pemeriksaan ulang yang
dilakukan selang paling sedikit 5 hari.
c.
Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 ,
1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640. Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3
minggu) : dinyatakan (+). – Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1
minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan
(+).
Jika 1 x
pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasien
dengan gejala klinis khas.
G.
Diagnosis
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi
biakan negative tidak menyingkirkan demam typoid. Biakan tinja positif
menyokong diagnosis klinis demam typoid. Peningkatan titer uji widal empat kali
lipat selama 2 samapi 3 minggu memastikan diagnosis demam typoid. Reaksi widal
dengan titer antibodi O 1/320 atau titer antibodi H 1/640 menyokong
diagnosis demam typoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. Pada
beberapa pasien uji widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang, walaupun biakan
darah positif.
Komplikasi
Komplikasi demam typoid terbagi atas dua, yaitu :
1.
Komplikasi Intestinal (Pendarahan usus,perforasi
usus).
2.
Komplikasi Ekstra Intestinal (Typoid encepalogi,
meningitis pneumonia,endocarditis)
H.
Pencegahan Demam Tifoid
Pencegahan dibagi menjadi beberapa
tingkatan sesuai dengan perjalanan penyakit, yaitu pencegahan primer,
pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
1. Pencegahan Primer
Pencegahan
primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat
atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer dapat dilakukan
dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi
yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu :
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan
sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit secara dini dan
mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Untuk mendiagnosis demam tifoid
perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3 metode untuk mendiagnosis
penyakit demam tifoid, yaitu :
Pencegahan sekunder dapat berupa :
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan
tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan akibat
komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid
sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap
terjaga dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada penderita
demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium pasca
penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau tidak
I. Pengobatan Penatalaksanaa
1. Medis
Anti Biotik
(Membunuh Kuman)
a.
Klorampenicol
b.
Amoxicilin
c.
Kotrimoxasol
d.
Ceftriaxon
e.
Cefixim
Antipiretik
(Menurunkan panas)
f.
Paracetamol
2.
Perawatan
Isolasi,
observasi dan pengobatan
a.
Pasien harus tirah baring absolute sampai 7 hari bebas
demam atau kurang lebih dari selam 14 hari. MAksud tirah baring adalah untuk
mencegah terjadinya komplikasi perforasi usus.
b.
Mobilisasi bertahap bila tidak panas, sesuai dengan
pulihnya kekuatan pasien.
c.
Pasien dengan kesadrannya yang menurun, posisi
tubuhnya harus diubah-ubah poada waktu-waktu tertentu untuk menghindari
komplikasi pneumonia hipopastatik dan dekubitus.
d.
Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena
kadang-kadang terjadi konstipasi dan diare.
3.
Diet
a.
Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
b.
Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
c.
Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari
lalu nasi tim
d.
Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas
dari demam selama 7 hari.
J.
Asuhan Keperawatan Teoritis
Pengkajian
A.
Identitas
1.
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin,
alamat, pendidikan, no register, agama, tanggal masuk, tanggal pengkajian,
diagnosa medis dan penanggung jawab.
2.
Alasan Masuk
Biasanya klien masuk dengan alasan demam, perut tersa mual
dan kembung, nafsu makan menurun, diare/konstipasi, nyeri kepala.
3.
Riwayat Kesehatan
a.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya
penyakit pasien typoid adalah demam, anorexia, mual , muntah, diare, perasaan
tidak enak diperut, pucat, nyeri kepala, nyeri otot, lidah kotor, gangguan
kesadaran berupa samnolen sampai koma.
b.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Apakah
sebelumnya pasien pernah mengalami sakit demam typoid atau pernah menderita
penyakit lainnya?
c.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam keluarga ada yang pernah menderita
penyakit demam typoid atau penyakit keturunan?
4.
Pemeriksaan Fisik
a.
Keadaan
umum :
Biasanya badan lemahb
b.
TTV :
peningkatan suhu,perubahan nadi, respirasi
c.
Kesadaran :
Dapat mengalami penurunan kesadaran.
d.
Pemeriksaan Head To toe
Keadaan kepala cukup bersih, tidak ada lesi / benjolan, distribusi rambut merata dengan warna warna hitam, tipis, tidak ada nyeri
Kebersihan
mata cukup, bentuk mata simetris kiri dan kanan, sclera tidak ikterik
konjungtiva kemerahan / tidak anemis.Reflek pupil terhadap cahaya baik.
Kebersihan
telinga bersih, bentuk tidak ada kelainan, tidak terdapat peradangan.
Kebersihan
hidung cukup, bentuk tidak ada kelainan, tidak terdapat tanda-tanda peradangan
pada mocusa hidung.Tidak terlihat pernafasan cuping hidung taka ada epistaksis.
Kebersihan
mulut kurang dijaga, lidah tampak kotor, kemerahan, mukosa mulut/bibir
kemerahan dan tampak kering.
Kebersihan leher
cukup, pergerakan leher tidak ada gangguan.
Kebersihan
dada cukup, bentuk simetris, ada nyeri tekan.tidak ada sesak., tidak ada batuk.
Kebersihan
cukup ,bentuk simetris,tidak ada benjolan/nnyeri tekan,bising usus 12x
/menit,terdapat pembesaran hati dan limfa
Tidak ada
kelainan bentuk antara kiri dan kanan,atas dan bawah,tidak terdapat
fraktur,genggaman tangan kiri dan kanan sama kuat
5.
Data Psikologis
Biasanya
pasien mengalami ansietas, ketakutan , perasaan tak berdaya dan depresi.
6.
Pemeriksaan Penunjang
a.
Darah
Pada
penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa
menurun atau meningkat.Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa
hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak mempunyai nilai
sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai
dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan tetapi adanya
leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis typoid
b.
SGOT, SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali
normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan
penanganan khusus
Diagnosa Keperawatan
A.
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi
Salmonella Typhi.
B.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
C.
Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan dengan out put yang
berlebihan.
D.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan bedrest
total
E.
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kelemahan
fisik
Intervensi
Keperawatan
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Intervensi
|
|
1
|
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi
Salmonella Typhi
|
Tujuan :
suhu tubuh kembali normal
Kriteria hasil : – Suhu turun 360 – 370 C
-
Nadi, RR dalam batas normal
- Klien mengatakan
badan tidak panas lagi .
Rencana Tindakan
1. Kaji pengetahuan pasien tentang
hipertermia
R/
Pemahaman tentang hipertermi membantu memudahkan tindakan.
2. Berikan
penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penngkatan suhu tubuh.
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari
peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul
3. Anjurkan klien menggunakan
pakaian tipis dan menyerap keringat .
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian
tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
4. Batasi pengunjung
R/
Agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas.
5. Observasi TTV tiap 4
jam sekali
R/
Tanda- tanda vital merupakn acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
6. Anjurkan pasien minum
2.5 liter/24 jam
R/
Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
7. Berikan kompres
hangat R/ R/ Untuk membantu menurunkan suhu tubuh
8. Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian terapi antibiotik dan antipiretik
R/ R/
antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk mengurangi panas.
|
|
2
|
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
|
Tujuan :
Nutrisi klien terpenuhi
Kriteria Hasil : – Nafsu makan
meningkat
- Pasien dapat menghabiskan
makanan sesuai dengan porsi yang diberikan.
- BB dalam batas normal
Rencana Tindakan
1. Kaji nutrisi pasien R/
mengetahui langkah pemenuhan nutrisi.
2. Jelaskan pada pasien dan keluarga
tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/ Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang
nutrisi sehingga motivasi makan meningkat.
3. Timbang berat badan klien
setiap 2 hari
R/
Untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
4. Beri nutrisi dengan diet
lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan
banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/untuk
meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
5. Beri makanan dalam porsi
kecil dan frekuensi sering.
R/ Untuk
menghindari mual dan muntah
6. Lakukan oral hygiene dan anjurkan
klien menggosok gigi setiap hari
R/ Dapat mengurangi
kepahitan selera dan menambah rasa nyaman di mulut
7. Kolaborasi dengan dokter
untuk pemberian antasida dan pemberian nutrisi parenteral
R/
Antasida mengurangi rasa mual dan muntah. Nutrisi
parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral
sangat kurang.
|
|
3
|
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan out put yang berlebihan
|
Tujuan : tidak terjadi
gangguan keseimbangan cairan
Kriteria Hasil : – Turgor kulit baik
-
Wajah tidak tampak pucat
Rencana Tindakan
1. Berikan penjelasan tentang pentingnya
kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
R/
untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
2. Observasi pemasukan dan
pengeluaran cairan R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
3.Anjurkan pasien utuk minum 2.5 liter/24
jam R/ Untuk pemenuhan kebutuhan cairan
4. Observasi kelancaran
tetesan infuse
R/ untuk
pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya edema
5. Kolaborasi dengan dokter
untuk terapi cairan (oral / parenteral)
R/ untuk
pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak
terpenuhi (secara parenteral)
|
|
4
|
Defisit perawatan diri berhubungan dengan bedrest
total
|
Tujuan : Klien dapat melakukan perawatan diri
sendiri tanpa bantuan keluarga
Kriteria Hasil : – Personal hygiene klien terpenuhi
– Klien tampak bersih
Rencana Tindakan
1. Kaji
tingkat personal hygiene klien
R/
Mengetahui tindakan personal hygiene yang akan dilakukan.
2. Bantu
Klien dalam melakukan perawatan diri seperti: mandi, gosok gigi, cuci rambut
dan potong kuku
R/ Membantu
untuk memenuhi kebutuhan personall hygiene klien.
3. Berikan
motivasi pada klien untuk dapat beraktifitas secara bertahap.
R/
Terwujudnya perawatan diri secara bertahap secara mandiri.
|
|
5
|
Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan
kelemahan fisik
|
Tujuan : Pasien bisa
melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari secara optimal.
Kriteria Hasil : Dapat
melakukan gerakan yang bermanfaat bagi tubuh
Rencana Tindakan
1. Kaji
kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan dan minum)
R/ Untuk
mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi
2. Beri
motivasi pada pasien dan keluarga untuk melakukan mobilisasi sebatas
kemampuan (misalnya miring kanan, miring kiri).
R/ Agar
pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang
bedrest.
3. Dekatkan
keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/
Untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas
4. Berikan
latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/
Untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.
|
Implementasi
Setelah
semua rencana tindakan keperawatan disusun, maka langkah selanjutnya
melaksanakan dalam tindakan yang nyata yang bertujuan untuk mengatasi masalah
klien. Melaksanakan secara langsung, bekerja sama dengan profesi lain, tenaga
keperawatan lainnya. Untuk kelanjutan pelayanan keperawatan secara
berkesinambungan.
Evaluasi
Merupakan
tahap akhir dari suatu proses keperawatan atau penilaian akhir dari proses keperawatan yang telah dilaksanakan.
Dimana perawat mencari kepastian keberhasilan dan juga mengetahui sejauh mana
masalah klien dapat diatasi. Jika belum berhasil dengan baik dilakukan kajian
ulang atau merevisi rencanatindakan
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Typus abdominalis adalah penyakit
infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam
lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran
Demam typoid adalah suatu penyakit
pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh
salmonella typhosa,salmonella tipe A,B dan C.Penularan terjadi secara
fecal,oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.(Mansjoer
Arief,2000)
Demam tifoid adalah penyakit menular
yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem
retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi
Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
B.
Saran
Sebaiknya
selalu menjaga kebersihan lingkungan, makanan yang dikonsumsi harus higiene dan
perlunya penyuluhan kepada masyarakat tentang demam tifoid.
sebaiknya kita harus membiasakan diri untuk
hidup sehat, biasakan untuk mencuci tangan sebelum makan. Agar kuman salmonella
tidak ikut tertelan masuk ke dalam sistem pencernaan kita bersama makanan yang
telah terkontaminasi.
DAFTAR PUSTAKA
(Suriadi.
2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. )
https://asuhankeperawatanamat.wordpress.com/asuhan-keperawatan-pencernaan/asuhan-keperawatan-typoid/
0 komentar:
Posting Komentar