Rss

Kamis, 11 Desember 2014

makalah kominikasih berdsarkan usia dewasa.n.p


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
            Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus-menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan,melaksanakan, kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal,baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hunbungan antar manusia Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Bidang Kedokteran dan Keperawatan serta perubahan konsep perawatan dari perawatan orang sakit secara individual kepada perawatan paripurna serta peralihan dari pendekatan yang berorientasi medis penyakit kemodel penyakit yang berfokus pada orang yang bersifat pribadi menyebabkan komunikasi menjadi lebih penting dalam memberikan asuhan keperawatan. 
Perawat dituntut untuk menerapkan model komunikasi yang tepat dan disesuaikan dengan tahap perkembangan pasien. Pada orang dewasa mereka mempunyai sikap,pengetahuan dan keterampilan yang lama menetap dalam dirinya sehingga untuk merubah perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif. Bertolak dari hal tersebut kami mencoba membuat makalah yang mencoba menerapkan model konsep komunikasi yang tepat pada dewasa.

B.Rumusan Masalah
            Dalam makalah komunikasi keperawatan ini kami membahas tentang komunikasi pada orang dewasa.







BAB II
PEMBAHASAN

A.DEFENISI KOMUNIKASI

Beberapa definisi komunikasi
a.       Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
b.      Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
c.       Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain(Davis, 1981).
d.      Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
e.       komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi)
B.Komunikasi pada Klien Dewasa
Menurut Erikson 1985,pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi VS isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih,minat,masalah dengan orang lain. Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap tertentu,pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama menetap pada dirinya, sehingga tidak mudah untuk merubahnya. Juga pengetahuan yang selama ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan dengan pengetahuan baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri dengan belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suatu perilaku lain dimasa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku baru itu. Dari segi psikologis, Orang dewasa dalam situasi komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu yaitu :
1. Komunikasi adalah sutu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih muktahir.
2. Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia punya perasaan dan pikiran.
3. Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
Komunikasi pada dewasa awal mengalami puncaknya pada kematangan fisik, mental dan kemampuan social mencapai optimal. Peran dan tanggung jawab serta tuntutan social telah membentuk orang dewasa. melakukan komunikasi dengan orang lain, baik pada setting professional ketika mereka bekerja atau pada saat mereka berada di lingkungan keluarga dan masyarakat umum.
Teknik komunikasi yang dikembangkan pada masa dewasa telah mencapai tahap optimal, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Kemampuan untuk mengembangkan komunikasi (sebagai media transfer informasi). Dalam menguasai pesan yang diterima, individu dewasa tidak hanya melihat isi pesan, tetapi juga mempersiapkan pesan tersebut dengan lebih baik serta menciptakan hubungan antar pesan yang di terima dengan konteks atau situasi pesan tersebut disampaikan. Pesan yang diterima individu dewasa kadang kala dipersepsikan bukan hanya dari konteks isi pesan, tetapi lebih kompleks lagi disesuaikan dengan situasi dan keadaan yang menyertai. Contoh: “sayang…” dari sepenggal kata tersebut ketika diungkapkan dengan nada datar, akan memberi kesan yang menyesalkan. Kesan ini semakin kuat bila penyampai pesan menunjukkan rasa penyesalan dari gerakan bibir, raur wajah, kepala menunduk. Namun, bila ungkapan tersebut diucapkan dengan menggunakan bahasa yang halus dan mendesah serta menyampaikan pesan dengan menunjukkan ekspresi mata bersinar, wajah cerah atau normal, persepsi individu dewasa tersebut adalah bahwa makna kata “sayang” tersebut adalah perasaan suka atau cinta. Kemampuan untuk menilai respon verbal dan nonverbal yang disampaikan lingkungan memberi keuntungan karena pesan yang kompleks dapat disampaikan secara sederhana. Namun, kadang kala kemampuan kompleks untuk menangkap pesan ini menimbulkan kerugian pada manusia karena kesalahan dalam menerima pesan menjadi lebih besar, akibat pengguna persepsi dan lingkungan yang lebih kompleks. Contoh : seseorang yang meludah didepan atau didekat orang seseorang kadang kala di persepsikan sebagai rasa tidak suka atau benci terhadap orang tersebut, atau orang yang meludah tersebut tidak bermaksud sebagaimana dipersepsikan orang lain. Situasi diatas selanjutnya menimbulkan konflik antar individu atau kelompok.


C.Suasana Komunikasi
Agar komunikasi dengan klien dewasa efektif perlu memperhatikan terciptanya suasana komunikasi yang mendukung tercapainya tujuan komunikasi seperti saling menghormati, percaya dan terbuka.
a.       Suasana saling menghormati
Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien dewasa, lawan komunikasi (perawat/tenaga kesehatan) harus dapat menghormati pendapat pribadinya. Klien dewasa akan merasa lebih senang apabila ia diperbolehkan untuk menyampaikan pemikiran atau pendapat, ide, dan sistem nilai yang dianutnya. Apabila hal-hal tersebut diabaikan akan menjadi kendala bagi keberlangsungan komunikasi.
b.      Suasana saling percaya
Komunikasi dengan klien dewasa perlu memperhatikan rasa saling percaya akan kebenaran informasi yang dikomunikasikan. Apabila hal ini dapat diwujudkan maka tujuan komunikasi akan lebih mudah tercapai.
c.       Suasana saling terbuka
Keterbukaan untuk menerima hasil komunikasi dua arah, antara perawat atau tenaga kesehatan dan klien dewasa akan memudahkan tercapainya tujuan komunikasi.
Klien dewasa yang menjalani perawatan di rumah sakit dapat merasa tidak berdaya, dan tidak aman ketika berada dihadapan pribadi-pribadi yang mengatur sikap dan perilakunya. Status kemandirian mereka berubah menjadi bergantung pada aturan dan ketetapan pihak lain. Hal ini dapat menjadi suasanya yang dirasanya sebagai ancaman. Akumulasi perasaan ini dapat terungkap dalam bentuk sikap emosional dan agresif. Dengan dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh para professional,pasien dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari imobilitas bio psikososialnya untuk mencapai penerimaan terhadap maslahnya.
D.Model Komunikasi pada Klien Dewasa
Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien dewasa dapat diterapkan beberapa model konsep komunikasi sebagai berikut:
a.       Model Shanon & Weaver
Model Shanon & Weaver memperhatikan problem pada penyampaian pesan informasi berdasarkan tingkat kecermatan. Model ini mengilustrasikan sumber dalam bentuk sandi. Diasumsikan bahwa sumber informasi menyampaikan sinyal yang sesuai dengan saluran informasi yang digunakan. Gangguan yang timbul dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Model ini dapat diterapkan pada konsep komunikasi antarpribadi. Faktor yang menguntungkan dari implementasi model ini ialah pesan yang disampaikan dapat diterima langsung oleh pihak penerima. Meskipun demikian, pada model ini pun terdapat kelemahan yang berupa hubungan antara sumber dan penerima pesan tidak kasat mata. Karena itu klien dewasa lebih memilih komunikasi secara langsung karena penerapan komunikasi melalui perantara dapat mengurangi kejelasan pesan yang dikomunikasikan.
b.      Model Komunikasi Leary
Model komunikasi Leary menekankan pengaruh hubungan interaksi di antara dua pihak yang berkomunikasi. Model ini mengamati perilaku klien yang dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Model komunikasi Leary diterapkan dalam bidang kesehatan berdasarkan keseimbangan informasi yang terjadi dalam komunikasi antara profesional dan klien. Dalam pesan komunikasi pada model ini ada dua dimensi yang perlu diperhatikan dalam penerapannya, yakni dimensi: penentu vs ditentukan, dan suka vs tidak suka.
Dalam jangka waktu tertentu pasien diposisikan sebagai penerima pesan yang ditentukan dan harus  dipatuhi di bawah dominasi profesional kesehatan. Dalam komunikasi seharusnya terdapat keseimbangan kepercayaan di antara pengirim dan penerima pesan.
Apabila model komunikasi ini diterapkan pada klien dewasa hanya dapat dilakukan pada kondisi darurat untuk menyelamatkan hidup klien karena dalam kondisi darurat klien harus mentaati pesan yang disampaikan oleh perawat/profesional kesehatan. Tetapi pada klien/pasien dalam kondisi kronik model komunikasi ini tidak tepat untuk diterapkan karena klien dewasa mempunyai komitmen berdasarkan sikap dan pengetahuannya yang tidak mudah dipengaruhi oleh perawat.
Pada kasus ini lebih tepat apabila diterapkan dimensi suka (hue) dalam kadar tertentu, sebatas untuk sarana penyampaian pesan profesional. Model ini ditekankan pada pentingnya hubungan dalam membantu klien pada pelayanan kesehatan secara langsung.
c.       Model Interaksi King
Model interaksi King menekankan arti proses komunikasi antara perawat dan klien dengan mengutamakan penerapan system perspektif untuk mengilustrasikan profesionalisme perawat dalam memberikan bantuan kepada klien.
Model ini menekankan arti penting interaksi berkesinambungan di antara perawat dan klien dalam pengambilan keputusan mengenai kondisi klien berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Interaksi merupakan proses dinamis yang melibatkan hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan, dan tindakan perawat-klien. Umpan balik pada model ini menunjuknya arti penting hubungan antara perawat dan klien.
Komunikasi berdasarkan model interaksi King lebih sesuai diterapkan pada klien dewasa karena model ini mempertimbangkan faktor intrinsik-ekstrinsik klien dewasa yang bertujuan untuk menjalin transaksi. Umpan balik yang terjadi bermanfaat untuk mengetahui hasil informasi yang disampaikan diterima dengan baik oleh klien.
d.      Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi ini difokuskan pada transaksi antara professional kesehatan-klien. 3 faktor utama dalam proses komunikasi kesehatan yaitu : 1) Relationship, 2) Transaksi, dan 3) Konteks. Hubungan Relationship dikondisikan untuk hubungan interpersonal, bagaimana seorang professional dapat meyakinkan orang tersebut. Profesional kesehatan adalah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, training dan pengalaman dibidang kesehatan. Klien adalah individu yang diberikan pelayanan. Orang lain penting untuk mendukung terjadinya interaksi khususnya mendukung klien untuk mempertahankan kesehatan. Transaksi merupakan kesepakatan interaksi antara partisipan didalam proses kumunikasi tersebut. Konteks yaitu komunikasi kesehatan yang memiliki topik utama tentang kesehatan klien dan biasanya disesuaikan dengan temapt dan situasi. Penerapannya Terhadap komunikasi klien Dewasa Model komunikasi ini juga dapat diterapkan pada klien dewasa, karena professional kesehatan (perawat) memperhatikan karekterisitik dari klien yang akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain. Transaski yang dilakukan secara berkesinambungan, tidak statis dan umpan balik. Komunikasi ini juga tidak melibatkan orang lain yang berpengaruh terhadap kesehatn klien. Konteks komunikasi disesuaikan dengan tujuan, jenis pelayanan yang diberikan.
Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa memerlukan suatu aturan tertentu seperti : sopan santun, bahasa tertentu, melihat tingkat pendidikan, usia, factor, budaya, nilai yang dianut, factor psikologi dll, sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut agar tidak terjadi kesakahpahaman. Pada komunikasi pada orang dewasa diupayakan agar perawat menerima sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat menerima setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Berdasarkan pada hal tertentu diatas, model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada klien dewasa adalah model komunikasi ini menunjukan hubungan relationship yang memperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerima, serta adanya umpan balik untuk mengevalusi tujuan komunikasi.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia kearah yang lebih baik sehingga perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunikasi yang tepat untuk setiap karakteristik klien.
a.       Orang dewasa memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang menetap dalam dirinya yang sukar untuk dirubah dalam waktu singkat sehingga perlu model komunikasi yang tepat agar tujuan dapat tercapai.
b.      Model konsep komunikasi yang sesuai untuk klien dewasa adalah model interaksi king dan model komunikasi kesehatan yang menekankan hubungan relationship yang saling member dan menerima serta adanya feedback untuk mengevaluasi apakah imformasi yang disampaikan sesuai dengan yang ingin dicapai.














BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
            Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
Menurut Erikson 1985 ,pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi VS isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih,minat,masalah dengan orang lain Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap tertentu,pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama menetap pada dirinya, sehingga tidak mudah untuk merubahnya. Juga pengetahuan yang selama ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan dengan pengetahuan baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri dengan belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suatu perilaku lain dimasa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku baru itu.
B.Saran 
                              Berdasarkan kesimpulan diatas maka kami selaku penulis berpesan kepada tenaga kesehatan khususnya perawat, ketika berkomunikasi pada pasien dewasa hendaknya perawat memiliki sikap atetif (memperdulikan, sabar, mendengarkan dan memperhatikan tanda-tanda non verbal, mempertahankan kontak mata)
                        Selain itu perawat juga harus bersikap merespon, serta memberi dukungan dan dapat menimbulkan sikap saling percaya. Sehingga memudahkan bagi perawat untuk melakukan asuhan keperawatan kepada pasien dewasa dengan mengetahui permasalahannya dengan jelas.
Kepada instansi keperawatan hendaknya dapat membimbing dan memfasilitasi mahasiswanya agar menjadi perawat yang profesional dalam berkomunikasi guna memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dewasa. 
DAFTAR PUSTAKA
Damaiyanti, Mukhripah. (2008). Komunikasi Terapeutik Dalam Praktek Keperawatan. Refika ADITAMA. Bandung.. Potter, Patricia A. (1997). Fundamental Keperawatan. EGC buku Kedokteran. Jakarta. Purwanto, Heri. (1999). Pengantar Perilaku Manusia. EGC Buku Kedokteran. Jakarta

Read More..

nining putri

Read More..

oey:deman typoid lengkap


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
       Segala puji kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul”deman typoid”       Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, dosen  saat proses pembelajaran mata kuliah yang telah memberikan ilmunya kepada penulis dan teman-teman.
       Penulis menyadari bahwa penulisan tugas ini masih kurang sempurna, hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan dan kesempurnaan tugas yang diberikan oleh ibu.
       Semoga penulisan tugas ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



                                                                        Bulukumba, 8,desember 2014
                                                                        Penulis.









BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Demam typhoid merupakan permasalahan kesehatan penting dibanyak negaraberkembang. Secara global, diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya. DiIndonesia diperkirakan insiden demam typhoid adalah 300 – 810 kasus per 100.000 penduduk pertahun, dengan angka kematian 2%. Demam typhoid merupakan salah satu dari penyakitinfeksi terpenting. Penyakit ini di seluruh daerah di provinsi ini merupakan penyakit infeksiterbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh 24 kabupaten. Di Sulawesi Selatan melaporkandemam typhoid melebihi 2500/100.000 penduduk (Sudono, 2006).Demam tifoid atau typhus abdominalls adalah suatu infeksi akut yang terjadi pada ususkecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.
Typhi dengan masa tunas 6-14 hari.Demam tifoid yang tersebar di seluruh dunia tidak tergantung pada iklim. Kebersihan peroranganyang buruk merupakan sumber dari penyakit ini meskipun lingkungan hidup umumnya adalahbaik. Di Indonesia penderita Demam Tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama padamusim panas. Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering padaanak besar, umur 5- 9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3: 1.12 Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, sejak usia seseorang mulai dapatmengkonsumsi makanan dari luar, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurangbersih. Biasanya baru dipikirkan suatu demam tifoid bila terdapat demam terus-menerus lebihdari 1 minggu yang tidak dapat turun dengan obat demam dan diperkuat dengan kesan anak baring pasif, nampak pucat, sakit perut, tidak buang air besar atau diare beberapa hari (BahtiarLatif, 2008)
Prognosis demam typoid tergantung dari umur,keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan.Angka kematian pada anak-anak 2.6 % dan pada orang dewasa 7.4%

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat diidentifikan masalah keperawatandemam thypoid mulai dari pengkajian, riwayat kesehatan, pola fungsional, pemeriksaan fisik danpemeriksaan laboratorium yang berguna untuk menunjang dalam pemberian asuhankeperawatan. Asuhan keperawatan ditentukan berdasarkan data focus yang diperoleh darikeluhan-keluhan yang dirasakan oleh pasien dan keluarga. Dari keluhan yang dapat digunakan untuk menentukan prioritas masalah keperawatan yang muncul, menentukan intervensi,implementasi keperawatan dan mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan. etiologi dari demam tifoid ?
C.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari demam tifoid ?
2.      Apa klinis dari demam tifoid ?
3.      Apa patofisiologi dari demam tifoid ?
4.       Bagaimana gejala dan tanda demam tifoid?
5.      Apa manifestasi klinik dari demam tyipoid?
6.      Bagaimana penanganan atau pencegahan demam tifoid?
7.      Bagaimana cara pembuatan asuhan keperawatan demam tyipoid?
D.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi dari demam tifoid.
2.      Untuk mengetahui etiologi dari demam tifoid.
3.       Untuk mengetahui patofisiologi dari demam tifoid.
4.      Untuk mengetahui gejala dan tanda demam tifoid.
5.       Untuk mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid.
6.      Untuk mengetahui cara penanganan atau pencegahan demam tifoid.
7.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan demam tyipoid
E.     Manfaat
1.      Sebagai bahan dalam memenuhi tugas dari dosen.
2.      Sebagai bahan untuk menambah wawasan pembaca khususnya tentang penyakit tifoid.
3.      Bagi masyarakat dapat memberikan gambaran tanda-tanda dan gejala serta penyebab penyakit demam tifoid di masyarakat sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi deman typoid
Demam typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.(Ilmu Kesehatan Anak,jilid 2,2003)
Demam typoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa,salmonella tipe A,B dan Penularan terjadi secara fecal,oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.(Mansjoer Arief,2000)
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
B.     Etiologi
1.      96 % disebabkan oleh salmonella typhi, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekuran-kurangnya 3 macam antigen, yaitu :
a.       Antigen O (somatic terdiri dari zat kompleklipolisakarida)
b.      Antigen (flagella)
c.       Antigen VI dan protein membrane hialin
2.      Salmonella paratyphi A
3.      Salmonella paratyphi B
4.      Salmonella  paratyphi C
5.      Feces dan urin  yang terkontaminasi dari penderita typus  (Rahmad Juwono,2002)
C.     Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan),ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor(usus besar), rectum dan anus. Pada kasus typoid, salmonella typi berkembang biak diusus halus.
Usus Halus adalah bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada seikum, panjangnya lebih kurang 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari :
Lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam ), lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari, panjangnya lebih kurang 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat pancreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lender yang membukit yang disebut dengan papilla vateri. PAda papilla vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pancreas (duktus pankreatikus). Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar. Kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang lebih kurang 6 meter. Dua per lima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang lebih kurang  23 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 meter. Lekukan yeyenum dan ileum yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesentrika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritoneum yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas. Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileosseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valuva seikalis atau valuva baukhim yang berfungsi  untuk mencegah cairan dalam asendens tdak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus, permukaan epitel yang sangat luas melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorpsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam – macam hormon jaringan dan enzim yang memegang peranan aktif dalam pencernaan. Di dalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel termasuk banyak leukosit. Disana – disini terdapat beberapa nodula jaringan limfe yang disebut kelenjar.
D.    Manifestasi Klinis
1.      Gejala Klinis demam typoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata – rata 10 – 20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama sampai  30 hari jika infeksi melalui minuman selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak semangat.
2.      Gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a.       Demam
Pada kasus – kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remitten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur – angsur meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua,penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur – angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
b.      Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah – pecah. Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung ditemukan kemerahan , jarang ditemui tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan.Biasanya didapatkan konstipasi  akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.
c.       Gangguan keasadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah.
Disamping gejala – gejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik – bintik kemerahan karena emboli basil dalam  kapiler kulit.Biasanya dtemukan alam minggu pertama demam kadang – kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis. .(Ilmu Kesehatan Anak,jilid 2,2003
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier.Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kumanke makanan, susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi) yang andal. (Samsuridjal D dan heru S, 2003) Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasiantara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selamamasa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto,2002)
E.     Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu:  Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
F.      Pemeriksaan Laboratorium
1.      Menurut buku – buku disebutkan pada demam typoid terdapat leucopenia dan limfositosis relative, tetapi kenyataan leucopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada batas- batas normal, malahan kadang-kadang terdapat leukositosis. Walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu, pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosis demam typoid.
2.      Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT seringkali meningkat tetapi kembali ke normal setelah sembuhnya demam typoid. KEnaikan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan pembatasan pengobatan.
3.      Biakan Darah
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan darah negatif menyingkirkan demam typoid. Hal ini disebabkan karena hasil biakan darah bergantung pada beberapa factor antara lain Teknik Pemeriksaan Laboratorium Saat pemeriksaan selama berjalan penyakit
Pada demam typoid biakan darah terhadap S.Typhi terutama positif pada minggu pertama penyakit dan berkurang  pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan biasa positif lagi.
4.      Uji Widal
a.       Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody, aglutinin yang spesifik terhadap salmonella terdapat dalam serum pasien demam typoid pada orang yang pernah ketularan salmonella dan pada orang yang pernah divaksinasi terhadap demam typoid.
b.      Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah laboratorium.Maksud uji widal adalah menentukan adanya agglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita demam typoid.Akibat infeksi oleh S.Typhi, pasien membuat anti bodi (aglutini),yaitu:
*      Aglutinin O,yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
*      Aglutinin H, karena rangsangan antigen H (berasal dari flagela kuman).
*      Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi (berasal sari simapi kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Mungkin tinggi titernya, mungkin besar kemungkinan pasien menmderita demam typoid. Pada infeksi yang aktif, titer uji widal akan meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari.
c.       Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640. Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+). – Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasien dengan gejala klinis khas.
G.    Diagnosis
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan negative tidak menyingkirkan demam typoid. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis demam typoid. Peningkatan titer uji widal empat kali lipat selama 2 samapi 3 minggu memastikan diagnosis demam typoid. Reaksi widal dengan titer antibodi O  1/320 atau titer antibodi H 1/640 menyokong diagnosis demam typoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. Pada beberapa pasien uji widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang, walaupun biakan darah positif.
Komplikasi
Komplikasi demam typoid terbagi atas dua, yaitu :
1.       Komplikasi Intestinal (Pendarahan usus,perforasi usus).
2.      Komplikasi Ekstra Intestinal (Typoid encepalogi, meningitis pneumonia,endocarditis)
H.    Pencegahan Demam Tifoid
Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan penyakit, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
1.      Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu :
*      Vaksin oral Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindiksi pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik. Lama proteksi 5 tahun.
*      Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 – 12 tahun 0,25 ml dan anak 1 – 5 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek samping adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.
*      Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil, menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun.Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
2.      Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit secara dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Untuk mendiagnosis demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3 metode untuk mendiagnosis penyakit demam tifoid, yaitu :
*      Diagnosis klinik.
*      Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman.
*      Diagnosis serologik.
Pencegahan sekunder dapat berupa :
*      Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha surveilans demam tyipoid
*      Perawatan umum dan nutrisi yang cukup.
*      Pemberian anti mikroba (antibiotik) Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat. pada wanita hamil, terutama pada trimester III karena dapat menyebabkan partus prematur, serta janin mati dalam kandungan. Oleh karena itu obat yang paling aman diberikan pada wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.
3.      Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan akibat komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada penderita demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau tidak
I.       Pengobatan Penatalaksanaa
1.      Medis
Anti Biotik (Membunuh Kuman)
a.       Klorampenicol
b.      Amoxicilin
c.       Kotrimoxasol
d.      Ceftriaxon
e.       Cefixim
Antipiretik (Menurunkan panas)
f.       Paracetamol
2.      Perawatan
Isolasi, observasi dan pengobatan
a.       Pasien harus tirah baring absolute sampai 7 hari bebas demam atau kurang lebih dari selam 14 hari. MAksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi perforasi usus.
b.      Mobilisasi bertahap bila tidak panas, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
c.       Pasien dengan kesadrannya yang menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah poada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipopastatik dan dekubitus.
d.      Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi konstipasi dan diare.
3.      Diet
a.       Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
b.      Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
c.       Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
d.      Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.




J.       Asuhan Keperawatan Teoritis
Pengkajian
A.    Identitas
1.      Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no register, agama, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis dan penanggung jawab.
2.      Alasan Masuk
Biasanya klien masuk dengan alasan demam, perut tersa mual dan kembung, nafsu makan menurun, diare/konstipasi, nyeri kepala.
3.      Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya penyakit pasien typoid adalah demam, anorexia, mual , muntah, diare, perasaan tidak enak diperut, pucat, nyeri kepala, nyeri otot, lidah kotor, gangguan kesadaran berupa samnolen sampai koma.
b.      Riwayat Kesehatan Dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit demam typoid atau pernah menderita penyakit lainnya?
c.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam keluarga ada yang pernah menderita penyakit demam typoid atau penyakit keturunan?
4.      Pemeriksaan Fisik
a.       Keadaan umum                   : Biasanya badan lemahb
b.      TTV                                    : peningkatan suhu,perubahan nadi, respirasi
c.       Kesadaran                           : Dapat mengalami penurunan kesadaran.
d.       Pemeriksaan Head To toe
*      Kepala
Keadaan kepala cukup bersih, tidak ada lesi / benjolan, distribusi rambut merata dengan warna warna hitam, tipis, tidak ada nyeri
*      Mata
Kebersihan mata cukup, bentuk mata simetris kiri dan kanan, sclera tidak ikterik konjungtiva kemerahan / tidak anemis.Reflek pupil terhadap cahaya baik.
*      Telinga
Kebersihan telinga bersih, bentuk tidak ada kelainan, tidak terdapat peradangan.
*      Hidung
Kebersihan hidung cukup, bentuk tidak ada kelainan, tidak terdapat tanda-tanda peradangan pada mocusa hidung.Tidak terlihat pernafasan cuping hidung taka ada epistaksis.
*      Mulut dan gigi
Kebersihan mulut kurang dijaga, lidah tampak kotor, kemerahan, mukosa mulut/bibir kemerahan dan tampak kering.
*      Leher
Kebersihan leher cukup, pergerakan leher tidak ada gangguan.
*      Dada
Kebersihan dada cukup, bentuk simetris, ada nyeri tekan.tidak ada sesak., tidak ada batuk.
*      Abdomen
Kebersihan cukup ,bentuk simetris,tidak ada benjolan/nnyeri tekan,bising usus 12x /menit,terdapat pembesaran hati dan limfa
*      Ekstremitas
Tidak ada kelainan bentuk antara kiri dan kanan,atas dan bawah,tidak terdapat fraktur,genggaman tangan kiri dan kanan sama kuat
5.      Data Psikologis
Biasanya pasien mengalami ansietas, ketakutan , perasaan tak berdaya dan depresi.
6.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Darah
Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa menurun atau meningkat.Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis typoid
b.      SGOT, SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus
Diagnosa Keperawatan
A.    Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhi.
B.     Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
C.     Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit  kurang dari kebutuhan berhubungan dengan out put yang berlebihan.
D.    Defisit perawatan diri berhubungan dengan bedrest total
E.     Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kelemahan fisik
Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Intervensi
1
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella  Typhi
Tujuan          : suhu tubuh kembali normal
Kriteria hasil :  – Suhu turun 360 – 370 C
-                        Nadi, RR dalam batas normal
-     Klien mengatakan badan tidak panas lagi .
Rencana Tindakan
  1. Kaji pengetahuan pasien tentang hipertermia
       R/ Pemahaman tentang hipertermi membantu memudahkan tindakan.
    2.       Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penngkatan suhu tubuh.
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul
    3.       Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat .
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
      4.         Batasi pengunjung
        R/ Agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas.
      5.         Observasi TTV tiap 4 jam sekali
          R/ Tanda- tanda vital merupakn acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
      6.         Anjurkan pasien minum 2.5 liter/24 jam
        R/ Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
     7.         Berikan kompres hangat R/  R/ Untuk membantu menurunkan suhu tubuh
    8.   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik dan antipiretik
R/       R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk mengurangi panas.
2
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan             : Nutrisi klien terpenuhi
Kriteria Hasil   : – Nafsu makan meningkat
-    Pasien dapat menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan.
-    BB dalam batas normal
Rencana Tindakan
     1.       Kaji nutrisi pasien R/ mengetahui langkah pemenuhan nutrisi.
    2.       Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/ Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi makan meningkat.
     3.       Timbang berat badan klien setiap 2 hari
         R/ Untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
   4.       Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
       R/untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
       5.       Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
      R/ Untuk menghindari mual dan muntah
    6.       Lakukan oral hygiene dan anjurkan klien menggosok gigi setiap hari
     R/ Dapat mengurangi kepahitan selera dan menambah rasa nyaman di mulut
     7.       Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan pemberian nutrisi parenteral
       R/ Antasida mengurangi rasa mual dan muntah. Nutrisi parenteral  dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.
3
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan out put yang berlebihan
                    Tujuan     : tidak terjadi gangguan keseimbangan   cairan
Kriteria Hasil : – Turgor kulit baik
-                       Wajah tidak tampak pucat
Rencana Tindakan
   1. Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
        R/ untuk mempermudah pemberian cairan  (minum) pada pasien.
    2.       Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
    3.Anjurkan pasien utuk minum 2.5 liter/24 jam R/ Untuk pemenuhan kebutuhan cairan
     4.       Observasi kelancaran tetesan infuse
      R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya edema
   5.       Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral)
       R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang     tidak terpenuhi  (secara parenteral)
4
Defisit perawatan diri berhubungan dengan bedrest total
Tujuan : Klien dapat melakukan perawatan diri sendiri tanpa bantuan keluarga
Kriteria Hasil : – Personal hygiene klien terpenuhi
                            –    Klien tampak bersih
Rencana Tindakan
1.       Kaji tingkat personal hygiene klien
       R/ Mengetahui tindakan personal hygiene yang akan dilakukan.
2.       Bantu Klien dalam melakukan perawatan diri seperti: mandi, gosok gigi, cuci rambut dan potong kuku
      R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan personall hygiene klien.
3.       Berikan motivasi pada klien untuk dapat beraktifitas secara bertahap.
       R/ Terwujudnya perawatan diri secara bertahap secara mandiri.






5






Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kelemahan fisik




Tujuan     : Pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari secara optimal.
Kriteria Hasil     : Dapat melakukan gerakan yang bermanfaat bagi tubuh
Rencana Tindakan
1.       Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan dan minum)
       R/ Untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi
2.       Beri motivasi pada pasien dan keluarga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (misalnya miring kanan, miring kiri).
       R/ Agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
                                         3.       Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
             R/ Untuk mempermudah pasien dalam  melakukan aktivitas
4.       Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
        R/ Untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.

Implementasi
Setelah semua rencana  tindakan keperawatan disusun, maka langkah selanjutnya melaksanakan dalam tindakan yang nyata yang bertujuan untuk mengatasi masalah klien. Melaksanakan secara langsung, bekerja sama dengan profesi lain, tenaga keperawatan lainnya. Untuk kelanjutan pelayanan keperawatan secara berkesinambungan.
Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan atau penilaian akhir dari  proses keperawatan yang telah dilaksanakan. Dimana perawat mencari kepastian keberhasilan dan juga mengetahui sejauh mana masalah klien dapat diatasi. Jika belum berhasil dengan baik dilakukan kajian ulang atau merevisi rencanatindakan













BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran
Demam typoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa,salmonella tipe A,B dan C.Penularan terjadi secara fecal,oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.(Mansjoer Arief,2000)
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
                                                                                   
B.     Saran
Sebaiknya selalu menjaga kebersihan lingkungan, makanan yang dikonsumsi harus higiene dan perlunya penyuluhan kepada masyarakat tentang demam tifoid.
 sebaiknya kita harus membiasakan diri untuk hidup sehat, biasakan untuk mencuci tangan sebelum makan. Agar kuman salmonella tidak ikut tertelan masuk ke dalam sistem pencernaan kita bersama makanan yang telah terkontaminasi.








DAFTAR PUSTAKA



(Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. )





Read More..