BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Komunikasi merupakan alat yang
efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi
dikembangkan dan dipelihara secara terus-menerus. Komunikasi bertujuan untuk
memudahkan,melaksanakan, kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai
tujuan optimal,baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hunbungan antar
manusia Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Bidang Kedokteran dan Keperawatan
serta perubahan konsep perawatan dari perawatan orang sakit secara individual
kepada perawatan paripurna serta peralihan dari pendekatan yang berorientasi
medis penyakit kemodel penyakit yang berfokus pada orang yang bersifat pribadi
menyebabkan komunikasi menjadi lebih penting dalam memberikan asuhan
keperawatan.
Perawat
dituntut untuk menerapkan model komunikasi yang tepat dan disesuaikan dengan
tahap perkembangan pasien. Pada orang dewasa mereka mempunyai sikap,pengetahuan
dan keterampilan yang lama menetap dalam dirinya sehingga untuk merubah
perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi
yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif. Bertolak dari
hal tersebut kami mencoba membuat makalah yang mencoba menerapkan model konsep
komunikasi yang tepat pada dewasa.
B.Rumusan Masalah
Dalam
makalah komunikasi keperawatan ini kami membahas tentang komunikasi pada orang
dewasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.DEFENISI KOMUNIKASI
Beberapa
definisi komunikasi
a.
Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang
mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat
dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
b.
Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan
penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
c.
Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan
pengertian dari satu orang ke orang lain(Davis, 1981).
d.
Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan
dengan orang lain (Schram,W)
e.
komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga
Administrasi)
B.Komunikasi
pada Klien Dewasa
Menurut Erikson 1985,pada orang
dewasa terjadi tahap hidup intimasi VS isolasi, dimana pada tahap ini orang
dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih,minat,masalah dengan orang
lain. Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap tertentu,pengetahuan tertentu,
bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama menetap pada dirinya, sehingga
tidak mudah untuk merubahnya. Juga pengetahuan yang selama ini dianggapnya
benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan dengan pengetahuan baru jika
kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya orang dewasa bukan seperti
gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh karena itu dikatakan bahwa
kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya
dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri dengan belajar, terdorong
akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suatu
perilaku lain dimasa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku
baru itu. Dari segi psikologis, Orang dewasa dalam situasi komunikasi mempunyai
sikap-sikap tertentu yaitu :
1.
Komunikasi adalah sutu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu
sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari
pengetahuan yang lebih muktahir.
2.
Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia
punya perasaan dan pikiran.
3.
Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan
menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling
mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
Komunikasi pada dewasa awal
mengalami puncaknya pada kematangan fisik, mental dan kemampuan social mencapai
optimal. Peran dan tanggung jawab serta tuntutan social telah membentuk orang
dewasa. melakukan komunikasi dengan orang lain, baik pada setting professional
ketika mereka bekerja atau pada saat mereka berada di lingkungan keluarga dan
masyarakat umum.
Teknik komunikasi yang dikembangkan
pada masa dewasa telah mencapai tahap optimal, baik dalam bentuk verbal maupun
nonverbal. Kemampuan untuk mengembangkan komunikasi (sebagai media transfer
informasi). Dalam menguasai pesan yang diterima, individu dewasa tidak hanya
melihat isi pesan, tetapi juga mempersiapkan pesan tersebut dengan lebih baik
serta menciptakan hubungan antar pesan yang di terima dengan konteks atau
situasi pesan tersebut disampaikan. Pesan yang diterima individu dewasa kadang
kala dipersepsikan bukan hanya dari konteks isi pesan, tetapi lebih kompleks
lagi disesuaikan dengan situasi dan keadaan yang menyertai. Contoh: “sayang…”
dari sepenggal kata tersebut ketika diungkapkan dengan nada datar, akan memberi
kesan yang menyesalkan. Kesan ini semakin kuat bila penyampai pesan menunjukkan
rasa penyesalan dari gerakan bibir, raur wajah, kepala menunduk. Namun, bila
ungkapan tersebut diucapkan dengan menggunakan bahasa yang halus dan mendesah
serta menyampaikan pesan dengan menunjukkan ekspresi mata bersinar, wajah cerah
atau normal, persepsi individu dewasa tersebut adalah bahwa makna kata “sayang”
tersebut adalah perasaan suka atau cinta. Kemampuan untuk menilai respon verbal
dan nonverbal yang disampaikan lingkungan memberi keuntungan karena pesan yang
kompleks dapat disampaikan secara sederhana. Namun, kadang kala kemampuan
kompleks untuk menangkap pesan ini menimbulkan kerugian pada manusia karena kesalahan
dalam menerima pesan menjadi lebih besar, akibat pengguna persepsi dan
lingkungan yang lebih kompleks. Contoh : seseorang yang meludah didepan atau
didekat orang seseorang kadang kala di persepsikan sebagai rasa tidak suka atau
benci terhadap orang tersebut, atau orang yang meludah tersebut tidak bermaksud
sebagaimana dipersepsikan orang lain. Situasi diatas selanjutnya menimbulkan
konflik antar individu atau kelompok.
C.Suasana
Komunikasi
Agar komunikasi dengan klien dewasa
efektif perlu memperhatikan terciptanya suasana komunikasi yang mendukung
tercapainya tujuan komunikasi seperti saling menghormati, percaya dan terbuka.
a. Suasana
saling menghormati
Untuk dapat berkomunikasi secara
efektif dengan klien dewasa, lawan komunikasi (perawat/tenaga kesehatan) harus
dapat menghormati pendapat pribadinya. Klien dewasa akan merasa lebih senang
apabila ia diperbolehkan untuk menyampaikan pemikiran atau pendapat, ide, dan
sistem nilai yang dianutnya. Apabila hal-hal tersebut diabaikan akan menjadi
kendala bagi keberlangsungan komunikasi.
b. Suasana
saling percaya
Komunikasi dengan klien dewasa perlu
memperhatikan rasa saling percaya akan kebenaran informasi yang
dikomunikasikan. Apabila hal ini dapat diwujudkan maka tujuan komunikasi akan
lebih mudah tercapai.
c. Suasana
saling terbuka
Keterbukaan untuk menerima hasil
komunikasi dua arah, antara perawat atau tenaga kesehatan dan klien dewasa akan
memudahkan tercapainya tujuan komunikasi.
Klien dewasa yang menjalani
perawatan di rumah sakit dapat merasa tidak berdaya, dan tidak aman ketika
berada dihadapan pribadi-pribadi yang mengatur sikap dan perilakunya. Status
kemandirian mereka berubah menjadi bergantung pada aturan dan ketetapan pihak
lain. Hal ini dapat menjadi suasanya yang dirasanya sebagai ancaman. Akumulasi
perasaan ini dapat terungkap dalam bentuk sikap emosional dan agresif. Dengan
dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa
oleh para professional,pasien dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari
imobilitas bio psikososialnya untuk mencapai penerimaan terhadap maslahnya.
D.Model
Komunikasi pada Klien Dewasa
Untuk dapat berkomunikasi secara
efektif dengan klien dewasa dapat diterapkan beberapa model konsep komunikasi
sebagai berikut:
a. Model Shanon
& Weaver
Model Shanon & Weaver
memperhatikan problem pada penyampaian pesan informasi berdasarkan tingkat
kecermatan. Model ini mengilustrasikan sumber dalam bentuk sandi. Diasumsikan
bahwa sumber informasi menyampaikan sinyal yang sesuai dengan saluran informasi
yang digunakan. Gangguan yang timbul dapat mengganggu kecermatan pesan yang
disampaikan. Model ini dapat diterapkan pada konsep komunikasi antarpribadi.
Faktor yang menguntungkan dari implementasi model ini ialah pesan yang disampaikan
dapat diterima langsung oleh pihak penerima. Meskipun demikian, pada model ini
pun terdapat kelemahan yang berupa hubungan antara sumber dan penerima pesan
tidak kasat mata. Karena itu klien dewasa lebih memilih komunikasi secara
langsung karena penerapan komunikasi melalui perantara dapat mengurangi
kejelasan pesan yang dikomunikasikan.
b. Model
Komunikasi Leary
Model komunikasi Leary menekankan
pengaruh hubungan interaksi di antara dua pihak yang berkomunikasi. Model ini
mengamati perilaku klien yang dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Model
komunikasi Leary diterapkan dalam bidang kesehatan berdasarkan keseimbangan
informasi yang terjadi dalam komunikasi antara profesional dan klien. Dalam
pesan komunikasi pada model ini ada dua dimensi yang perlu diperhatikan dalam
penerapannya, yakni dimensi: penentu vs ditentukan, dan suka vs tidak suka.
Dalam jangka waktu tertentu pasien
diposisikan sebagai penerima pesan yang ditentukan dan harus dipatuhi di bawah dominasi profesional
kesehatan. Dalam komunikasi seharusnya terdapat keseimbangan kepercayaan di
antara pengirim dan penerima pesan.
Apabila model komunikasi ini
diterapkan pada klien dewasa hanya dapat dilakukan pada kondisi darurat untuk
menyelamatkan hidup klien karena dalam kondisi darurat klien harus mentaati
pesan yang disampaikan oleh perawat/profesional kesehatan. Tetapi pada
klien/pasien dalam kondisi kronik model komunikasi ini tidak tepat untuk
diterapkan karena klien dewasa mempunyai komitmen berdasarkan sikap dan
pengetahuannya yang tidak mudah dipengaruhi oleh perawat.
Pada kasus ini lebih tepat apabila
diterapkan dimensi suka (hue) dalam kadar tertentu, sebatas untuk sarana
penyampaian pesan profesional. Model ini ditekankan pada pentingnya hubungan
dalam membantu klien pada pelayanan kesehatan secara langsung.
c. Model
Interaksi King
Model interaksi King menekankan arti
proses komunikasi antara perawat dan klien dengan mengutamakan penerapan system
perspektif untuk mengilustrasikan profesionalisme perawat dalam memberikan
bantuan kepada klien.
Model ini menekankan arti penting
interaksi berkesinambungan di antara perawat dan klien dalam pengambilan
keputusan mengenai kondisi klien berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Interaksi merupakan proses dinamis
yang melibatkan hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan, dan tindakan
perawat-klien. Umpan balik pada model ini menunjuknya arti penting hubungan
antara perawat dan klien.
Komunikasi berdasarkan model
interaksi King lebih sesuai diterapkan pada klien dewasa karena model ini
mempertimbangkan faktor intrinsik-ekstrinsik klien dewasa yang bertujuan untuk
menjalin transaksi. Umpan balik yang terjadi bermanfaat untuk mengetahui hasil
informasi yang disampaikan diterima dengan baik oleh klien.
d. Model
Komunikasi Kesehatan
Komunikasi ini difokuskan pada
transaksi antara professional kesehatan-klien. 3 faktor utama dalam proses
komunikasi kesehatan yaitu : 1) Relationship, 2) Transaksi, dan 3) Konteks.
Hubungan Relationship dikondisikan untuk hubungan interpersonal, bagaimana
seorang professional dapat meyakinkan orang tersebut. Profesional kesehatan
adalah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, training dan
pengalaman dibidang kesehatan. Klien adalah individu yang diberikan pelayanan.
Orang lain penting untuk mendukung terjadinya interaksi khususnya mendukung
klien untuk mempertahankan kesehatan. Transaksi merupakan kesepakatan interaksi
antara partisipan didalam proses kumunikasi tersebut. Konteks yaitu komunikasi
kesehatan yang memiliki topik utama tentang kesehatan klien dan biasanya
disesuaikan dengan temapt dan situasi. Penerapannya Terhadap komunikasi klien
Dewasa Model komunikasi ini juga dapat diterapkan pada klien dewasa, karena
professional kesehatan (perawat) memperhatikan karekterisitik dari klien yang
akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain. Transaski yang dilakukan
secara berkesinambungan, tidak statis dan umpan balik. Komunikasi ini juga
tidak melibatkan orang lain yang berpengaruh terhadap kesehatn klien. Konteks
komunikasi disesuaikan dengan tujuan, jenis pelayanan yang diberikan.
Dalam berkomunikasi dengan orang
dewasa memerlukan suatu aturan tertentu seperti : sopan santun, bahasa
tertentu, melihat tingkat pendidikan, usia, factor, budaya, nilai yang dianut,
factor psikologi dll, sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut
agar tidak terjadi kesakahpahaman. Pada komunikasi pada orang dewasa diupayakan
agar perawat menerima sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat
menerima setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Berdasarkan pada hal
tertentu diatas, model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada
klien dewasa adalah model komunikasi ini menunjukan hubungan relationship yang
memperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerima,
serta adanya umpan balik untuk mengevalusi tujuan komunikasi.
Komunikasi merupakan alat yang
efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia kearah yang lebih baik sehingga
perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunikasi yang tepat
untuk setiap karakteristik klien.
a.
Orang dewasa
memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang menetap dalam dirinya yang
sukar untuk dirubah dalam waktu singkat sehingga perlu model komunikasi yang
tepat agar tujuan dapat tercapai.
b. Model konsep
komunikasi yang sesuai untuk klien dewasa adalah model interaksi king dan model
komunikasi kesehatan yang menekankan hubungan relationship yang saling member
dan menerima serta adanya feedback untuk mengevaluasi apakah imformasi yang
disampaikan sesuai dengan yang ingin dicapai.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Komunikasi adalah kegiatan
pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh
pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
Menurut
Erikson 1985 ,pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi VS isolasi, dimana
pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta
kasih,minat,masalah dengan orang lain Orang dewasa sudah mempunyai
sikap-sikap tertentu,pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah
sangat lama menetap pada dirinya, sehingga tidak mudah untuk merubahnya. Juga
pengetahuan yang selama ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah
digantikan dengan pengetahuan baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang
lama. Tegasnya orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan
sesuatu. Oleh karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat
diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar
kalau ia sendiri dengan belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan
perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suatu perilaku lain dimasa
mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku baru itu.
B.Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka kami selaku penulis berpesan kepada
tenaga kesehatan khususnya perawat, ketika berkomunikasi pada pasien dewasa
hendaknya perawat memiliki sikap atetif (memperdulikan, sabar, mendengarkan dan
memperhatikan tanda-tanda non verbal, mempertahankan kontak mata)
Selain itu perawat juga harus bersikap merespon, serta memberi dukungan dan
dapat menimbulkan sikap saling percaya. Sehingga memudahkan bagi perawat untuk
melakukan asuhan keperawatan kepada pasien dewasa dengan mengetahui
permasalahannya dengan jelas.
Kepada instansi keperawatan hendaknya dapat membimbing dan memfasilitasi
mahasiswanya agar menjadi perawat yang profesional dalam berkomunikasi guna
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Damaiyanti, Mukhripah. (2008).
Komunikasi Terapeutik Dalam Praktek Keperawatan. Refika ADITAMA. Bandung..
Potter, Patricia A. (1997). Fundamental Keperawatan. EGC buku Kedokteran.
Jakarta. Purwanto, Heri. (1999). Pengantar Perilaku Manusia. EGC Buku
Kedokteran. Jakarta
0 komentar:
Posting Komentar